- oleh AlFahri
- 10 Februari 2025
Wakil Bupati Balangan Akhmad Fauzi memukul Gong sebagai tanda di mulainya Festival Mesiwah Pare Gumboh (MPG) VIII.
Balangan, Tirai Kota. - Masyarakat adat Dayak Deah di
Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, kembali menggelar Festival
Mesiwah Pare Gumboh (MPG) VIII, Jumat (10/7/2026).
Tradisi tahunan ini menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil
panen, sekaligus upaya melestarikan budaya leluhur yang kini berkembang sebagai
salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Balangan.
Wakil Bupati Balangan, Akhmad Fauzi, mengapresiasi
konsistensi masyarakat Desa Liyu dalam menjaga dan melestarikan tradisi yang
telah diwariskan secara turun-temurun.
“Ulun sangat mengapresiasi seluruh unsur di Desa Liyu yang
telah memelihara adat warisan leluhur dan menyelenggarakannya secara rutin
setiap tahun. Festival ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Liyu,
tetapi juga menunjang Balangan sebagai daerah tujuan wisata,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Balangan akan terus
mendukung pengembangan potensi wisata di Desa Liyu dengan tetap menjaga
nilai-nilai budaya lokal agar tetap lestari dan tidak kehilangan jati dirinya.
Ketua Pelaksana Festival Mesiwah Pare Gumboh VIII, Budianto,
menjelaskan rangkaian kegiatan tahun ini tetap mempertahankan prosesi adat yang
menjadi ciri khas festival.
Rangkaian acara diawali dengan arak-arakan menuju balai
ritual, dilanjutkan prosesi Nyerah Ngemonta, memasak hasil panen, hingga ritual
Mesiwah yang diiringi pembacaan mantra kepada para leluhur.
Selain prosesi adat, festival juga dimeriahkan penampilan
tujuh sanggar seni dari Kabupaten Balangan serta sejumlah sanggar seni dari
Kabupaten Tabalong.
“Rangkaian kegiatan tahun ini tidak jauh berbeda dengan
pelaksanaan sebelumnya karena tetap mempertahankan prosesi adat yang menjadi ciri
khas festival,” kata Budianto.
Ia berharap Festival Mesiwah Pare Gumboh pada tahun-tahun
mendatang terus mendapat dukungan dari pemerintah daerah maupun pemerintah
pusat sehingga dapat berkembang lebih baik dan semakin dikenal masyarakat luas.
Sementara itu, Kepala Desa Liyu, Sukri, mengatakan Mesiwah
Pare Gumboh bukan sekadar ritual adat atau syukuran panen, melainkan identitas
masyarakat Dayak Deah yang mencerminkan semangat gotong royong, persatuan,
serta rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.
Menurutnya, tradisi tersebut juga menjadi ruang silaturahmi
yang mempertemukan masyarakat, para perantau, hingga pengunjung dari berbagai
daerah.
“Siapa pun yang datang ke desa ini bukanlah tamu, melainkan
saudara yang sedang pulang kampung. Kami berharap setiap orang yang datang
membawa pulang cerita tentang hangatnya persaudaraan dan suatu saat kembali
lagi ke Desa Liyu,” ungkapnya.
Melalui penyelenggaraan Festival Mesiwah Pare Gumboh VIII, masyarakat berharap tradisi warisan leluhur tetap terjaga sekaligus semakin memperkuat posisi Desa Liyu sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Balangan. (*)