- oleh AlFahri
- 10 Februari 2025
Sosialisasi pengelolaan data dan pendataan menggunakan SIRIP PAUS.
Balangan, Tirai Kota. - Pengelolaan data Pasangan
Usia Subur (PUS) di Kabupaten Balangan kini didorong lebih cepat dan akurat
melalui inovasi digital SIRIP PAUS (Sistem Informasi Pendataan Pasangan Usia
Subur).
Inovasi yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Balangan
melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian
Penduduk dan Keluarga Berencana serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3A
PPKB PMD) menjadi solusi terkait kendala pendataan manual.
Kepala DP3A PPKB PMD Kabupaten Balangan, Rahmadi, mengatakan
transformasi digital menjadi kebutuhan penting dalam mewujudkan pelayanan
publik yang efektif dan berbasis data.
“SIRIP PAUS merupakan bentuk komitmen kami untuk menghadirkan
tata kelola data kependudukan yang lebih modern, akurat, dan mudah diakses.
Dengan sistem digital ini, proses pelaporan menjadi lebih cepat, monitoring
dapat dilakukan langsung, dan intervensi terhadap pasangan usia subur dapat
diberikan lebih tepat sasaran,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, inovasi tersebut diharapkan mampu mendukung
keberhasilan Program Bangga Kencana sekaligus mempercepat terwujudnya keluarga
berkualitas dan penduduk tumbuh seimbang di Kabupaten Balangan.
Melalui SIRIP PAUS, Pemkab Balangan berupaya memperkuat tata
kelola data kependudukan yang efektif, efisien, transparan, dan berkelanjutan
sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan serta peningkatan kualitas pelayanan
keluarga berencana.
Diketahui bersama SIRIP PAUS ini dikembangkan oleh dua
inovator, yakni Denny Mariaty Simbolon dan Anita Nur Azizah, menjadi solusi
atas berbagai kendala pendataan yang sebelumnya dilakukan secara manual.
Denny Mariaty Simbolon, mengatakan SIRIP PAUS
mentransformasi pendataan Register Pasangan Usia Subur (R1-PUS) dari metode
berbasis kertas menjadi sistem digital terintegrasi yang dapat diakses secara
real-time.
Menurutnya, pendataan manual selama ini memiliki sejumlah
kendala, mulai dari risiko kesalahan pencatatan, keterlambatan pelaporan,
sulitnya monitoring dan evaluasi, hingga risiko kerusakan maupun kehilangan
arsip fisik.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada lambatnya pengambilan
keputusan dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana dan pelayanan keluarga
berencana.
“Data PUS merupakan fondasi utama dalam mendukung
pengendalian laju pertumbuhan penduduk, peningkatan kualitas keluarga, serta
penurunan Total Fertility Rate (TFR),” ujarnya.
Ia menjelaskan, data yang akurat diperlukan untuk
mengidentifikasi peserta KB aktif, pasangan yang belum ber-KB atau unmet need,
hingga kelompok berisiko tinggi yang memerlukan intervensi secara cepat dan
tepat sasaran.
Melalui SIRIP PAUS, proses pendataan dilakukan menggunakan
sistem berbasis link spreadsheet yang dapat diakses melalui telepon pintar
maupun komputer.
Kader IMP, Sub Kader IMP, Penyuluh KB, hingga administrator
di tingkat kabupaten dapat melakukan pengisian, pemantauan, dan pembaruan data
secara langsung tanpa harus menunggu pengiriman dokumen fisik.
Sistem tersebut juga dilengkapi sejumlah fitur pendukung
kualitas data, seperti validasi otomatis, pembagian hak akses sesuai
kewenangan, pencatatan riwayat perubahan data atau version history, serta
penyimpanan berbasis cloud.
“Alhamdulillah implementasi inovasi ini telah menunjukkan
hasil positif. Selain membentuk basis data digital terintegrasi, SIRIP PAUS
mampu memangkas waktu pelaporan dari desa hingga kabupaten, mengurangi
penggunaan formulir kertas, menekan biaya operasional administrasi, serta
meningkatkan kualitas data kependudukan sebagai dasar penyusunan kebijakan
pembangunan keluarga,” jelas Denny.
Selain mempercepat pelaporan, inovasi ini juga memudahkan
monitoring dan evaluasi Program Bangga Kencana. Petugas dapat memantau kondisi
akseptor KB secara real-time, mendeteksi lebih dini risiko putus pakai
kontrasepsi, serta memberikan pendampingan kepada PUS yang membutuhkan.
SIRIP PAUS turut dilengkapi modul pembelajaran dan video
tutorial interaktif untuk memudahkan kader serta petugas lapangan dalam
menggunakan sistem.
Denny menyebut, inovasi tersebut lahir dari kebutuhan nyata
di lapangan, terutama untuk mengatasi berbagai kendala dalam pendataan PUS
secara manual. (*)